Meskipun memang agak susah untuk mendefinisikan apa itu gunung berapi atau gunung api, namun secara umum istilah tersebut dapat didefinisikan sebagai suatu sistem saluran fluida panas (batuan dalam wujud cair atau lava) yang memanjang dari kedalaman sekitar 10 km di bawah permukaan bumi sampai ke permukaan bumi, termasuk endapan hasil akumulasi material yang dikeluarkan pada saat dia meletus. Gunung berapi terdapat di seluruh dunia, tetapi lokasi gunung berapi yang paling dikenali adalah gunung berapi yang berada di sepanjang busur Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire). Busur Cincin Api Pasifik merupakan garis bergeseknya antara dua lempengan tektonik.

Gunung berapi terdapat dalam beberapa bentuk sepanjang masa hidupnya. Gunung berapi yang aktif mungkin bertukar menjadi separuh aktif, menjadi padam, sebelum akhirnya menjadi tidak aktif atau mati. Bagaimanapun gunung berapi mampu menjadi padam dalam waktu 610 tahun sebelum bertukar menjadi aktif semula. Oleh itu, sukar untuk menentukan keadaan sebenarnya sesuatu gunung berapi itu, apakah sesebuah gunung berapi itu berada dalam keadaan padam atau telah mati.
Krakatau

Data Umum Mengenai Krakatau: Nama:G. Krakatau

Nama Lain:Cracatoa, Krakatao Nama Kawah:Anak Krakatau

Lokasi:Koordinat/ Geografi : 6O06’05.8″ LS dan 105O25’22.3″ BT. Selat Sunda, Kec. Kalianda, Kab. Lampung Selatan, Propinsi Lampung.

Ketinggian:P. Rakata 813m, P. Sertung 182m, P. Panjang 132m dan P.Anak Krakatau 305m.

Kota Terdekat:Kalianda (Lampung), Merak, Anyer dan Labuan (Banten)

Tipe Gunungapi:Pulau gunung api dengan salah satu kerucut aktifnya di pusat kaldera (Volcanic Caldera).

Lokasi Pos Pengamatan

– Pasuran, Kec. Cinangka, Kab. Serang Banten.

– Hargopancuran, Kec. Kalianda, Kab. Lampung

Krakatau adalah gunung berapi yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Gunung berapi ini pernah meletus pada tanggal 26 Agustus 1883. Letusannya sangat dahsyat dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa.

Sampai tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat. Suara letusan gunung Krakatau sampai terdengar di Alice Springs, Australia dan pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali dari bom atom yang meledak di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II. Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York. Ledakan Krakatau ini sebenarnya masih kalah dibandingkan dengan letusan Gunung Toha dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung Tanpo di Selandia Baru dan Gunung Katmal di Alaska. Namun gunung tersebut meletus jauh di masa populasi manusia masih sangat sedikit. Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat. Sains dan teknologi berkembang. Telegraf sudah ditemukan dan kabel bawah laut sudah dipasang sehingga teknologi informasi saat itu sedang tumbuh dan berkembang pesat. Tercatat, letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut. Namun kemajuan teknologi tersebut sayangnya tidak diimbangi dengan kemajuan di bidang Geologi yang justru berjalan lambat. Para ahli geologi saat itu bahkan belum mampu memberikan penjelasan tentang letusan tersebut. Perkembangan Gunung Krakatau Gunung Krakatau Purba Melihat kawasan Gunung Krakatau di Selat Sunda, Para ahli memperkirakan bahwa pada masa purba terdapat gunung yang sangat besar di selat sunda yang akhirnya meletus dahsyat yang menyisakan sebuah kaldera (kawah besar) yang disebut Gunung Krakatau purba. yang merupakan induk dari Gunung Krakatau yang meletus pada 1883. Gunung ini disusun dari bebatuan andesitik. Catatan mengenai letusan Krakatau Purba yang diambil dari sebuah teks Jawa Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa yand diperkirakan berasal dari tahun 416 Masehi. Isinya yakni berbunyi, Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula. Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatera. Menurut pakar Geologi, B.G. Escher, dan beberapa ahli lainnya mengatakan berasal dari Gunung Krakatau purba yang dalam teks tersebut disebut Batuwara. Menurut buku Javanese Book of Kings, tinggi gunung krakatau purba ini mencapai 2000 meter diatas permukaan laut. Lingkaran pantainya mencapai 11 kilometer. Akibat ledakan yang hebat itu, tiga perempat tubuh Krakatau Purba hancur menyisakan kaldera (kawah besar) di Selat Sunda. Sisi-sisi atau tepi kawahnya dikenal sebagai [Pulau Rakata], Pulau Panjang dan pulau Sertung, dalam catatan lain disebut sebagai Pulau Rakata, Pulau Rakata kecil dan Pulau Sertung. Letusan gunung ini disinyalir bertanggung jawab atas terjadinya abad kegelapan dimuka bumi. Penyakit sampar bubonic terjadi karena temperatur mendingin. Sampar ini secara signifikan mengurangi jumlah penduduk di muka bumi. Letusan ini juga dianggap turut andil atas berakhirnya masa kejayaan Persia purba, transmutasi Kerajaan Romawi ke Kerajaan Byzantium, berakhirnya peradaban South Arabian, punahnya kota besar Maya, Tikal dan jatuhnya peradaban Nazca di Amerika Selatan yang penuh teka teki. Ledakan Krakatau Purba diperkirakan berlangsung selama 10 hari dengan mass dicharge 1 juta ton per detik, Ledakan telah membentuk perisai atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur sebesar 5-10 derajat selama 10-20 tahun.
Munculnya Gunung Krakatau

Pulau Rakata, yang merupakan satu dari tiga pulau sisa Gunung Krakatau purba kemudian tumbuh sesuai dengan dorongan vulkanik dari dalam perut bumi yang dikenal sebagai Gunung Rakata yang terbuat dari batuan basaltik. Kemudian, dua gunung api muncul dari tengah kawah, bernama Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan yang kemudian menyati dengan Gunung Rakata yang muncul terlebih dahulu. Persatuan ketiga gunung api inilah yang disebut Gunung Krakatau. Gunung Krakatau pernah meletus pada tahun 1680 menghasilkan lava andesitik asam. Lalu pada tahun 1880, Gunung Perbuwatan aktif mengeluarkan lava meskipun tidak meletus. Setelah masa itu, tidak ada lagi aktivitas vulkanis di Krakatau hingga 20 Mei 1883. Pada hari itu, setelah 200 tahun tertidur, terjadi ledakan kecil pada Gunung Krakatau. Itulah tanda-tanda awal bakal terjadinya letusan dahsyat di Selat Sunda. Ledakan kecil ini kemudian disusul dengan letusan-letusan kecil yang puncaknya terjadi pada 26-28 Agustus 1883. Letusan Gunung Krakatau Pada hari Senin, 27 Agustus 1883, tepat jam 10.20, meledaklah gunung itu. Menurut Simon Winchester, ahli Geologi lulusan Universitas Oxford Inggris yang juga penulis National Geoghrapic mengatakan bahwa ledakan itu adalah yang paling besar, suara paling keras dan peristiwa vulkanik yang paling meluluh lantakkan dalam sejarah manusia modern. Suara letusannya terdengar sampai 4.600 km dari pusat letusan dan bahkan dapat didengar oleh 1/8 peduduk bumi saat itu. Menurut para peneliti di University of North Dakota, Ledakan Krakatau bersama Tambora (1815) mencatatkan nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. Sedangkan buku The Guiness Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai ledakan yang paling hebat yang terekam dalam sejarah. Selain itu, ledakan gunung krakatau telah melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik dengan volume 18 kilometer kubik. Semburan debu vulkanisnya mencavai 80 km. Benda-benda keras yang berhamburan ke udara itu jatuh di dataran pulau Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia dan Seladia Baru. Akibat letusan itu menghancurkan Gunung Danan, Gunung Perbuwatan serta sebagian Gunung Rakata dimana setengah kerucutnya hilang, membuat cekungan selebar 7 km dan sedalam 250 meter. Gelombang laut naik setinggi 40 meter menghancurkan desa-desa dan apa saja yang berada di pesisir pantai. Tsunami ini timbul bukan hanya karena letusan tetapi juga longsoran bawah laut. Tercatat jumlah korban yang tewas mencapai 36.417 orang berasal dari 295 kampung kawasan pantai mulai dari Merak (Serang) hingga Cilamaya di Karawang, pantai barat Banten hingga Tanjung layar di Pulai Panaitan (Ujung Kulon serta Sumatera Bagian selatan. Di Ujungkulon, air bah masuk sampai 15 km ke arah barat. Keesokan harinya sampai beberapa hari kemudian, penduduk Jakarta dan Lampung pedalaman tidak lagi melihat matahari. Gelombang Tsunami yang ditimbulkan bahkan merambat hingga ke pantai Hawaii, pantai barat Amerika Tengah dan Semenanjung Arab yang jauhnya 7 ribu kilometer. Anak Krakatau Mulai pada tahun 1927 atau kurang lebih 40 tahun setelah meletusnya Gunung Kakatau, muncul gunung api yang dikenal sebagai Anak Krakatau dari kawasan kaldera purba tersebut yang masih aktif dan tetap bertambah tingginya. Kecepatanpertumbuhan tingginya selitar 20 inchi per bulan. Setiap tahun ia menjadi lebih tinggi sekitar 20 kaki dan lebih lebar 40 kaki. Catatan lain menyebutkan penambahan tiggi sekitar 4 cm per tahun dan jika dihitu, maka dalam waktu 25 tahun penambahan tinggi anak rakata mencapai 7500 inchi atau 500 kaki lebih tinggi dari 25 tahun sebelumnya. Penyebab tingginya gunung itu disebabkan oleh material yang keluar dari perut gunung baru itu. Saat ini ketinggian anak rakata mencapai sekitar 230 meter diatas permukaan laut, sementara Gunung Krakatu sebelumnya memiliki tinggi 813 meter dari permukaan laut. Menurut Simon Winchester, Sekalipun apa yang terjadi dalam kehidupan krakatau yang dulu sangat menakutkan, realita-realita geologi, seismik serta tektonik di Jawa dan Sumatera yang aneh akan memastikan bahwa apa yang dulu terjadi pada suatu ketika akan terjadi kembali. Tak ada yang tahu pasti kapan anak Krakatau akan meletus. Beberapa ahli Geologi memprediksi letusan in bakal terjadi antara 2015-2083. Namun pengaruh dari gempa di dasar lautan Hindia pada 26 Desember 2004 juga tidak bisa diabaikan. Menurut Profesor Ueda Nakayama salah seorang ahli gunung api berkebangsaan Jepang, Gunung anak rakata masih relatif aman meski aktif dan sering ada letusan kecil, hanya ada saat-saat tertentu para turis dilarang mendekati kawasn ini karena bahaya lava pijar yang dimuntahkan gunung api ini. Para pakar lain menyatakan tidak ada teori yang masuk akal tentang anak Krakatau yang akan kembali meletus. Kalaupun ada minimal 3 abad lagi atau sesudah 2325 M. Namun yang jelas, angka korban yang ditimbulkan lebih dahsyat dari letusan sebelumnya. Masalah Krakatau Secara biologis, masalah krakatauberdasarkan pertanyaan apakah pulau tersebut benar-benar steril sejak erupsi 1883, atau apakah ada orang yang selamat. Ketika peneliti pertama tiba disana pada bulan Mei 1884, satu-satunya hal yang hidup yang mereka temukan adalah seekor laba-laba di sebuah celah di sebelah selatan pulau rakata. Walaupun begitu, kehidupan di pulau tersebut mulai bangkit. Pada sisi sebelah timur pulau mulai tumbuh tanaman dan semak belukar, yang mungkin terbawa kesana dalam bentuk benih yang terbawa ombak atau dibawa oleh burung. Sebelumnya, vegetasi dipulau tersebut b enar-benar hancur dalam erupsi 1883. Kegiatan Saat ini Pulau tersebut masih aktif, episode erupsi yang terbaru dimulai tahun 1994. Sejak itu, terdapat waktuistirahat yang kemudian dimulai lagi, terkadang dengan ledakan yang lebih besar. Sejak tahun 1950, pulau vulkanik tersebut tumbuh rata-rata 13 cm tiap minggu. Laporan tahun 2005 mengindikasikan bahwa aktivitas anak krakatau meningkat, dengan aliran lava segar yang menambah area pulau.
Pemanfaatan Area Pulau Vulkanik Krakatau

Komplek Gunungapi Krakatau dapat dicapai dari beberapa jalur laut. Jalur pertama berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priuk dengan menggunakan kapal Jet-Foils atau Kapal Pesiar. Jalur kedua dapat ditempuh dari Pelabuhan Labuan, kota kecamatan di pantai barat Banten, dari pelabuhan ini dapat menyewa kapal motor atau kapal nelayan yang berkapasitas antara 5 sampai 20 orang. Jalur ketiga ditempuh dari Pelabuhan Canti, Kalianda, di pelabuhan ini juga dapat menyewa kapal motor atau kapal nelayan yang akan menempuh Krakatau melalui P. Sebuku dan P. Sebesi. Pencapaian pelabuhan Canti dari Jakarta dapat menggunakan jalan tol Jakarta-Merak, kemudian menyebrang ke P. Sumatra dengan Ferry dari Merak ke Bakauhuni, dari Bakauhuni dilanjutkan ke Kota Kalianda dan dari Kalianda ke pelabuhan Canti lk. 25 km. Waktu yang paling baik untuk berkunjung ke Krakatau adalah pada musim panas, yaitu antara Mei sampai September dari arah Jakarta, Banten maupun dari Kalianda. Komplek vulkanik ini tidak berpenduduk, tetapi dijadikan obyek daya tarik pariwisata yang bertujuan untuk penelitian ilmiah atau menikmati pemandangan alamnya. Komplek Krakatau merupakan salah satu sumberdaya gunungapi, selain sebagai obyek penelitian vulkanologi, geologi, geofisika, seismologi, meteorologi, biologi dan oceanografi, juga untuk menikmati keindahan alamnya, sebagai wisata bahari, wisata hutan, wisata pantai, wisata geologi maupun wisata gunung apinya. Sumberdaya Geologi, para ahli geologi dengan data geologi yang ada berusaha membuka tabir mekanisme pembentukan kaldera Krakatau dan kejadian yang akan datang. Letusan Gunung Krakatau 2001, 2000, 1999, 1997, 1996, 1994-95, 1992-93, 1988, 1981, 1980, 1979, 1978, 1975, 1972-73, 1969?, 1965?, 1959-63, 1958-59, 1955, 1953, 1952, 1950, 1949, 1946-47, 1946, 1945, 1944, 1943, 1942, 1941, 1938-40, 1937, 1936, 1935, 1932-34, 1931-32, 1927-30, 1883, 1680-81, 1550, 1350, 1150, 1050, 950, 850, 416, 250. Courtesy: en.wikipedia.org id.wikipedia.org merapi.vsi.esdm.go.id volcano.und.edu http://www.geology.sdsu.edu http://www.lanl.gov http://www.volcanolive.com